Rabu, 21 Desember 2016

Sejarah dan Silsilah Handphone-Handphone Tercinta

Sebenarnya konteksnya mungkin dirasa tidak terlalu penting tapi karena ini adalah blog saya maka saya ingin berbagi pengalaman yang saya alami hehehe. Pertama-tama izinkan saya mengatakan bahwa konteks ini tidak didasari oleh "ingin pamer" atau "somvong", tapi murni seperti menceritakan silsilah suatu keluarga. Berikut adalah silsilah beserta sejarahnya handphone-handphone yang pernah saya gunakan.

Kamis, 11 Agustus 2016

Write My Life (Part 4)

SMA Trimurti, dari namanya saya kira sekolah tentara. Tidak, ini sekolah formal. Ibarat SMA Negeri dengan status swasta. Disini menurut saya tenaga pengajarnya tidak kalah hebat dengan SMA Negeri, bahkan ada yang sudah jadi langganan menulis soal EBTA untuk UNAS dan pemilik lembaga pendidikan. Awalnya aku meragukan sekolah disini, karena pikiranku masih memikirkan "mengapa aku gagak UN dan gak bisa masuk SMAN?", tapi ya sudah, saya ikhlaskan. Btw, bagian ini sangat panjang, karena saya masih hafal perjalanan hidup saya disini secara rinci.

Write My Life (Part 3)

Setelah tamat SD, tentu ada jeda liburan dong. Seingatku ada jeda liburan lumayan lama. Tepat pada saat itu adalah waktu ayahku wisuda di Surabaya... Ya, ayahku baru menggelar S1 umur 40 tahun, dulu beliau tidak mampu untuk kuliah dan memilih untuk langsung bekerja hingga bertemu ibu dan menikah.

Rabu, 10 Agustus 2016

Write My Life (Part 2)

Pada bagian Part 2 ini, saya hanya menceritakan biografi saya dari kanak kanak hingga tamat SD, Bagi yang belum membaca Part 1, harap dibaca dahulu karena ada beberapa part seperti nama-nama, lokasi, dan lainnya yang sudah saya ceritakan di part sebelumnya. Yak, mari kita mulai...

Jumat, 22 April 2016

Write My Life (Part 1)

Aku terlahir dari keluarga yang berkecukupan, untuk saat ini, namun tidak ketika dahulu. Ketika aku masih 4 bulan kandungan, saat itu orang tuaku sedang berada di Kalimantan, namun orang tuaku tidak menyadari kehadiranku. Ibuku sakit sakitan, serba tidak enak badan, bahkan untuk makan saja ibuku selalu memuntahkannya kembali. Sempat berobat namun hanya divonis demam biasa. Masih tidak enak badan, ayahku melarikan ibuku ke Surabaya untuk berobat. Sebelum masuk pesawat, ayahku membelikan ibuku sebungkus pentol tusuk untuk dimakan, akhirnya ibu makan juga. Namun tetap saja, di Surabaya ibuku hanya divonis demam, bahkan malaria. Segala obat obatan diberi namun tidak kunjung sembuh. Orang tuaku mulai curiga, akhirnya memutuskan untuk tes urine, dan baru ketahuan akan hadirku di perut ibuku. Saat itu ibuku merasa cemas ketika aku lahir nanti tidak normal alias cacat, karena efek obat-obatan tadi.

Tour Museum Tugu Pahlawan Surabaya | Arti Sebuah Sejarah

" Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya " Begitulah kalimat yang sering kita dengar pada setiap ...